Perplexity

I am Elisabeth Yosephine and impulsive could be fine for my middle name. Twenty years young and so delighted about enjoying life. I love art, people, and words so much. My posts are about everything. I hope you enjoy your journey here. And I love food too, by the way.
Recent Tweets @elisabethym
LIKES
FOLLOWING

Day-29

A picture of myself.

Semoga setelah ulang tahun, saya sudah pasti dalam menentukan sikap. Semoga. Semoga. Semoga. Amin.
logically acceptable.

oupacademic:

n. Pie.

image

Image: Raspberry and blueberry tart by Alexander Kaiser. CC-BY-2.0 via Wikimedia Commons.

TORTAAAAA! #eh #itu #SPARTAAAAA!

Do you wish for anything at 11:11? If so, what do you wish for?

I’m sorry I do not and will never wish for anything at 11:11. But if I could refer wishing to praying, I would pray at 11:11 or anytime, for being resuscitated from these stupid thoughts, soon. I can’t resist them any longer.

Duh.

Belakangan ini ada yang sedikit berbeda denganku. Aku mulai kembali menutup diri dari beberapa orang. Kenapa aku katakan ‘kembali’? Karena dulu, aku pun pernah melakukannya. Kalian tahu, apa alasan yang membuatku memutuskan untuk begitu? Hanya satu: pengertian. Belakangan ini aku tidak merasakan ada yang akan mengerti apa yang hendak aku sampaikan. Jadi, menurutku, percuma saja aku membuka diri.

Aku merasakan betapa waktu punya kuasa untuk mengubah pengertian manusia. Waktu yang kita pakai akan memberikan pengertian tersendiri bagi kita. Semisal aku, ketika aku menghabiskan waktu sendirian, aku hanya akan menemukan diriku sendiri. Itu pengertianku tentang waktu pada saat itu. (Karenanya, memang baik sekali jika kita memiliki waktu untuk diri sendiri; belajar menemukan jati diri dan mengenal pribadi sendiri, supaya kita tahu menempatkan diri kita di berbagai aspek di dalam kehidupan ini). Jika aku bisa menemukan orang lain dalam kesendirianku tadi, tentulah hal itu berarti ada yang istimewa dengan orang tersebut. Hehehehe jadi malu. Lalu, ketika waktu tadi kita pakai bersama dengan orang lain, atau orang-orang lain, dia pasti akan memberikan pengertian yang sama bagi kita dan orang-orang tersebut atau setidaknya, pasti ada pengertian yang saling beririsan. Contohnya, tiga orang yang berjalan kaki bersama menuju sebuah rumah makan di siang hari pasti memiliki satu kesimpulan tentang siang itu: panas dan memegalkan kaki. Setidaknya, ketiga orang tersebut pasti sama-sama merasa bahwa, benar, mereka sedang bersama di siang itu; pengertian yang paling sederhana bagi mereka.

Inilah masalahnya. Belakangan ini, kami tidak telah memakai waktu yang sama, bersama-sama. Lagi, bukan waktu yang singkat, malahan cukup lama. Bagaimana mungkin kami mendapat pengertian yang sama tentang waktu itu? Bagaimana mungkin, ketika aku, sendirian, berjalan ke rumah makan di siang hari yang terik, tahu, bahwa, mereka yang saat itu mungkin sedang membaca buku di kamarnya, merasakan terik yang sama denganku? Waktu yang kita pakai memberikan pengertian tersendiri bagi kita. Dengan siapa kita memakainya, juga memberikan pengertian tersendiri bagi kita.

Kemudian, apakah yang menjadi kunci dari keterbukaan? Ya, adanya perasaan ‘dekat’ antara yang satu dengan yang lain. Dari manakah kedekatan itu berasal? Bisakah hanya melalui pemberian emotions di Path? Like di Instagram? Tidak. Lalu, apakah? Menurutku, jawabannya adalah komunikasi. Sebuah kamus bisnis mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses dua arah untuk mencapai pengertian yang sama tentang sesuatu, di mana setiap pihaknya tidak hanya bertukar informasi, berita, ide, dan perasaan, namun juga menciptakan dan membagikan artinya. Secara umum, komunikasilah yang menghubungkan orang-orang. Coba perhatikan lekat-lekat, tujuan komunikasi menurut kamus tersebut: mencapai pengertian yang sama. Ada yang bisa melihat apa kaitan antara yang kubahas sebelumnya tentang waktu dan komunikasi?

Jika kuelaborasikan, walaupun kita tidak menggunakan waktu secara bersama-sama, sebenarnya kita bisa mendapat pengertian yang sama dengan orang-orang tersebut, jika kita memiliki komunikasi yang baik dengan mereka. Tapi coba perhatikan sekali lagi, komunikasi adalah proses dua arah. Karena kalau satu arah, macet. Hehehehe. Oke, maksudku adalah, proses dua arah tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa ada inisiatif dari kedua belah pihak. Ya, inilah masalah selanjutnya. Tidak ada satu pun dari aku dan mereka yang berhasil mempertahankan inisiatif ini. Akibatnya, kualitas komunikasi kami pun tidak bisa dikatakan baik. Dampaknya, tidak ada lagi keterbukaan.

Waktu-waktu yang kenyataannya kupakai sendirian belakangan ini, telah memberikan pengertian bagiku, bahwa tidak penting orang lain tahu masalahmu, yang penting kau sampaikan saja pada Tuhan, yang adalah sumber segala pengertian. Pun, Dia selalu bersamamu kan, selama ini? Jadi, Dia pasti merasakan yang kau rasakan, baik itu panas terik, hujan badai, dilalui bersama, kayak lagu.

Tetapi, karena hidup adalah untuk belajar, aku mau berusaha untuk mengubah apa yang bisa kuubah. Aku mau merasakan lagi keterbukaan dengan orang-orang di sekitarku. Aku juga mau merasakan mendapat dukungan dan bahu untuk bersandar (ceilah!). Iya, aku juga akan belajar untuk lebih berhikmat dalam mengetahui apa-apa saja yang layak untuk dibagikan. Aku akan belajar memperbaiki komunikasiku. Dengan natur diri yang tidak terlalu suka dengan komunikasi maya alias chatting, aku memang sulit untuk menjalin tali inisiatif tersebut. Aku lebih suka tidur dari pada chatting. Ya iyalah. (Kalau pun aku kedapatan chatting, pastilah itu untuk urusan yang penting. Pertanyaan lagi apa, udah makan belum, hari ini mau ke mana, won’t work). Ya, begitulah.

Jadi, berapa banyak dari kalian yang bisa menanggapi paragraf-paragraf di atas dengan bijaksana?

Day-27:

A picture of my handwriting. :)

Just another short post!

Things that make me feel warm and fuzzy:

1. City lights
2. A cup of hot tea in the morning
3. Engrossed in thought, surrounded by prayer candles.
4. Telling stories around the bonfire
5. Preparing a hot meal on a cold evening.
6. A rainy day.

That’s all. Thanks to BuzzFeed; because I am too lazy to think.

Hi, there! I want to say sorry first to myself and then to you, because I forgot to post this one yesterday. I slept so early at 8.30 P.M. because I had so many thoughts in my head and I wanted to forget them for a while. So, I choose sleeping; for it is the best escape of all.

But, I feel good to share something to answer yesterday’s challenge. What’s that?

Would you rather date someone plain with an amazing personality or someone beautiful with plain personality?

Ok, actually it’s wonderful to date someone handsome with an amazing personality, right? But if I have to choose one from those two options, I, of course, would rather date someone plain with an amazing personality. Because I am the type of person who isn’t easily get interested in something beautiful if it’s only on its surface. I seldom fall in superficiality thingy. I don’t know why but I feel like anyone can be handsome or beautiful, but only some have it mixed with an amazing personality, and in addition, only one who is my kind. And I am not going to date their good physical appearance but their personality on how, after this very long journey, he can finally make me say, “that’s him!”.

Because, charm is deceitful and beauty is fleeting, eventually.

Hello-yellow, fellas!

I’m typing in my AKK’s room, Tria, right now because she wanted to ask me things about being a sharer in Persekutuan Doa tomorrow. Lol, I am looking at her writing her own guideline and I suddenly remember my first time being a sharer too.

Without any hesitation, I will type my answer for this day.

"7 things that cross my mind"

1. The existence of Twitter. Everyone seems to move-on to other social medias and leave Twitter behind. I have been thinking about this for about two months. My Twitter timeline is not ‘crowded’ anymore. Is it only mine or not?

2. I always get irritated of something that is so instant, except instant noodle.

3. Will I reach my dream or not because I really wish I could.

4. What am I going to write as my thesis topic?

5. Will I ever get tired of eating too much?

6. What am I or how am I in others’ mind?

7. I was so happy yesterday and I thank God for that. :)

Done and I want to sleep because I am really sleepy ugh why are these eyes so weak lately?

What a happy day! Err, how are you? I am going to give you the answer of today’s challenge. This challenge is the most awaited challenge for me because I have been thinking that I will make something special: “a letter to someone, anyone.” And by special I mean, I wanted to write a letter to my-significant-other but then I thought it would be better if I keep that one private so that it’d be kind of surprise.

Finally, I decided to write a letter to one of my best friends instead. I made it in Bahasa Indonesia. :)

Untuk seorang sahabat di sana.  

Ada setidaknya dua prinsip yang menjadi dasar hidup orang percaya. Melakukan kebenaran dan menerapkan kasih. Kata ‘dan’ di sana haruslah dipandang dengan lekat. Artinya, dua hal tersebut haruslah dikerjakan dengan beriringan. Tapi, seringkali manusia terjebak di salah satunya. Entahkah ia hanya melakukan kebenaran namun melupakan kasih, atau dia mengasihi tapi bukan di dalam prinsip kebenaran. Di manakah kita?

Halo, sahabatku.

Masih suka menangis karena laki-laki itu? Masih suka tidak percaya dan hobi merangkai asumsi-asumsi yang membunuh? Kalau iya, aku harus berkata jujur, aku prihatin. Terkadang aku suka heran dengan hubungan ‘kasih’ umat manusia di muka bumi ini. Dengan gaya berpacarannya, materi berpacaran, topik pembicaraan, kegiatan selama berpacaran dan sebagainya. Bukan, ini bukan karena aku baru saja selesai membaca buku-buku rohani tentang pasangan hidup (atau apalah), makanya aku berani menyatakan keherananku. Ini adalah murni dari hasil pengamatan yang mendalam (haha).

Pacaran sih, tapi kok nangis terus?

Pacaran sih, tapi kok curigaan?

Pacaran sih, tapi kok hobi adu mulut?

Pacaran sih, tapi kok boros?

Aku sudah berulangkali bilang, kalau kau memang selalu mencurigai pasanganmu, lebih baik kau tidak usah berpacaran. Aku sudah sejuta kali mengatakan, kalau kau dan dia selalu bertengkar karena hal yang itu-itu saja, lebih baik kalian berpisah. Untuk apalah demikian? Memangnya ngga capek? Ngga pusing? Ngga kasihan sama hati sendiri?

Pembelaanmu selalulah karena kalian sudah pacaran begitu lama dan kau selalu merasa bahwa kau tidak akan bisa menemukan orang lain yang lebih baik dari dia. Awalnya aku masih memaklumi alasan itu. Tapi sekarang? Ya begitulah. Aku bukannya capek mendengar ceritamu. Aku hanya kasihan, kau masih berada di tangga yang sama, selama ini.

Aku pernah memberimu satu analogi. Analogi celah. Kau masih ingat? Waktu itu kita membicarakannya sampai larut malam. Ketika tidak ada rambu-rambu yang menunjukkan bahwa kau bisa masuk ke celah itu, jangan pernah masuk, jangan pernah mencoba menghalangi apa pun yang hendak masuk. Intinya, kau hanya boleh mengikuti petunjuk yang ada. Tapi apa yang aku lihat? Kau sedang berusaha membelokkan petunjuk arah yang ada menuju celah itu. Supaya kau bisa melihat apa yang ada di dalamnya (padahal kau tahu itu sangat gelap). Kau penasaran dengan apa yang ada di celah itu. Itulah yang kau lakukan sekarang. Kau mengasihi, tapi tidak dalam prinsip kebenaran. Maaf, aku bukan bermaksud untuk menghakimi, kau sendiri yang mengatakan itu kepadaku.

Telah juga pernah kunasihatkan, kita bukan orang yang harus mengikuti kata hati kita melainkan adalah orang yang harus memimpin hati kita mengikuti kata Tuhan. Karena apa? Alkitab sendiri mengatakan bahwa hati itu licik, lebih licik dari apa pun. Kau mau mengikuti si licik itu? Tentu saja tidak. Kitalah yang memimpinnya menuju jalan lurus yang disiapkan Tuhan. Jadi, maaf kalau aku begitu menentang argumenmu yang mengatakan bahwa hatimu bilang, “laki-laki itulah yang terbaik dan aku tidak akan pernah menemukan yang lebih baik dari dia.” Bukan hatimu yang menentukan apakah dia yang terbaik atau tidak, Tuhan yang tunjukkan. Sudahkah berdoa untuk hubungan kalian ini? Sudahkah menyerahkannya ke dalam tangan Tuhan?

Seharusnya kau tidak akan sesedih itu lagi jika permasalahan ini tidak terjadi terus-menerus. Kasih itu memang sabar, namun sabar yang bagaimanakah? Kasih itu jelas tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain, namun kenapa masih bertengkar terus dan saling mencurigai? Kasih itu bersukacita karena kebenaran, namun kenapa dukalah yang tampak dari ceritamu? Ayolah, sahabat, pikirkan ulang semua hal ini.

Masa mudamu terlalu berharga untuk dipakai dengan hal-hal yang tidak membangun. Masa mudamu terlalu sehat untuk dipakai dengan hidup yang minus sukacita. Masa mudamu terlalu brilliant untuk dipakai bertengkar satu dengan yang lain. Masa mudamu terlalu bermanfaat untuk dipakai mengasihi bukan di dalam prinsip kebenaran firman Tuhan.

Karena itu, carilah terus kebenaran itu, setiap detiknya, setiap jamnya. Posisikanlah kasihmu di koridor kebenaran firman sehingga masa pacaranmu adalah masa yang menjadi berkat bagi sesama dan kemuliaan bagi Tuhan. Bukan sekadar pacaran yang sedang maraknya beredar saat ini. Bukan pacaran yang ‘makan hati’. Aku mau mengingatkanmu, kasih itu seharusnya membuat kita semangat dan taat, bukan malah mendatangkan mudharat dan si jahat.

Sekali lagi, bukan karena aku lelah menasihatimu—karena memang begitulah manusia—hobi meminta nasihat—nasihat yang hanya akan mendukung opsinya, namun aku sedih melihatmu seperti ini. Sangat sedih.

One step ahead. Remember that and burn your spirit up!
A little whisper to my heart.

Good evening, all!

Do you know why I post this picture? It doesn’t mean that I want to promote you to buy it. It is actually my answer to today’s challenge: a photo of something I wore today! Look, look. When I read the word ‘wore’ I directly thought about outfits. But then I realized… this pen is also something I wore today; I wore it to write, ha-ha-hah.

Ok, forgive me. Just accept that picture, please, because I am not in the mood to take a selfie to show you what I ‘wore’ today. Moreover, I am lazy too. So, please say that it’s accomplished.

Nighty-night!

Hi, there!

What’s up?

LINE?

WeChat?

#ok

—-

I have passed twenty days on this challenge and I can’t believe that I allowed myself to be drowned in this thing haha yet I enjoy it. Ok, like usual, I always try to start my post with a prolog. So now, I will try to make one here.

There are so many (unimportant) things, in different kinds of them, trying to get my attention lately and I have two choices here. To look and give my response, or just look and then get rid of it. Nah, if I choose the first one, I will just waste my time. That consequence reminded me again to proudly choose the second one. I don’t want to be driven by my mood. I am mature enough to distinguish the important ones and the opposite. Yeah, at the end, I surely know what happens because I actually take a little look, but I do not really care with whatever it is. That’s my true side, dear my fellow tumblr people.

And… what we have today?

“Turn ons and turn offs”

Let me start!

TURN ONS:

1. a gentle guitarist with a good sense of humour and amazing-imaginative word-play

2. that powerful and clear tone of soprano voices singing high note

3. those heart-stabbing words which can make me think deep

4. acoustic songs

5. various designs of Batik uh-oh they are so beautiful :’)

6. humble people

7. that good plot of a story

8. poetry

9. clear and tidy twitter timeline (what the pokemon is that)

10. everything about astronomy

TURN OFFS:

1. boring teaching in class (hey you made me lazier than ever)

2. my stomach when it acts too much

3. too serious people ehehe

4. too sweet meals

5. messy room

6. that kentang performance of something

7. my country president election drama and thank God it’s over

8. sleepy eyes when I want to do many things

All is accomplished!

Ya Tuhan, biarlah bukan hanya menjadi bacaan, melainkan juga cerminan.

Before I start, I would like to thank God for this day because I have experienced so many things that created joy in my heart and smile on my face. I really really love this day. Lord Jesus, You are so good to me. You always are.

Hmmm, ok, I am currently typing on my smartphone tumblr application because I am too lazy to grab my laptop and type there. Just as I read, the day-20 of this challenge asked me about concert I have attended. So here I will just go straight to the answer.

When I was still in my hometown (Medan), I used to attending concerts. But those were not kind of concert you may have thought. They are choir concerts. I still remember that I attended every Consolatio Choir’s concert since 2008 because I love their voices so much. I also watched (if I am not mistaken) El-Shaddai, Sola Gratia, and Clarabelle Choir’s concerts. And my own choir concert, Santo Thomas Chronicles Choir. Hmm let me see, aha, I also attended POND’s Teens Concert which offered me different atmosphere (with pop bands).

Ehm by the way, can I also consider Glenn Fredly’s performance at my high school’s Pentas Seni as a concert? Lol.

And then here, I have attended Java Jazz Festival, Java Soulnation, Paragita’s, Jakarta Broadway Team’s, Adera’s (nose-bleed), Unpar Choir’s, what again… hmm I think that’s all. Hehehe.