Perplexity

I am Elisabeth Yosephine and impulsive could be fine for my middle name. Twenty one years young and so delighted about enjoying life. I love art, people, and words so much. My posts are about everything. I hope you enjoy your journey here. And I love food too, by the way.
Recent Tweets @elisabethym
LIKES
FOLLOWING
I live now to enjoy my future. So, I will give my best for whatever I do today.
Yeah.

1. Apa ya yang bisa dan harus kita lakukan supaya perekonomian di negara ini merata? Setiap mau berangkat ke kampus, aku pasti melewati daerah stasiun Lenteng Agung. Kalau kemarin aku bertemu kakek tua pemungut sampah, kali ini yang mencuri perhatianku adalah seorang bapak tua yang menyambung hidup dengan berjualan pisang. Sesungguhnya, aku sudah lama mengetahui keberadaannya. Tapi, baru tadilah aku berpapasan langsung dengan si penjual yang duduk lesu dengan tampang lelahnya. Kulihat dengan seksama, tidak ada pembeli yang datang. Entahlah, aku ngga tahu kenapa, tapi hatiku langsung terhenyuk melihat bapak tua itu. Rasanya ingin kuajak dia berbicara dan kutanyakan apa yang membuatnya sangat lesu begitu. Walaupun aku mungkin ngga bisa membantu secara materi, tapi aku ingin sekali mendengarnya. Supaya aku bisa mendoakannya. Aaah, lalu langsung saja terlintas wajah para pejabat negeri ini yang kerjaannya menggagalkan kesejahteraan. Terbayang di kepalaku pose para tetua-tetua DPR yang sedang tidur di kala rapat. Terbayang juga padaku potret para pemuda/pemudi negeri ini yang hobi ke klub malam dan menghabiskan uangnya. Sungguh miris :”( Semua orang ingin Indonesia berubah, tapi sedikit yang berpikir untuk mengubah dirinya terlebih dahulu. Lalu, sampai kapan kita terus begini? :’(

2. Menjelaskan sesuatu dari perspektif psikologis/filosofis adalah menyenangkan. Dia bisa masuk ke berbagai bidang ilmu dan sangat “manusiawi”. Psikologis untuk menggugah afektifnya, filosofis untuk menstimulasi kognitifnya. Akhirnya, psikomotoriknya bisa berjalan dengan lebih baik.

3. Apa cuma aku orang—lebih tepatnya perempuan—yang terlalu santai menghadapi gejolak tahun akhir di kampus ini? Aku sedikit mengkhawatirkan keseriusanku sih saat ini. Coba kalian bayangkan, dari 7 buku yang aku pinjam melalui perpustakaan, ada beberapa buku yang tidak menyangkut hal-hal hukum sama sekali. Tapi ya itu, aku tidak suka membatasi ilmu. Dari kecil, aku udah terbiasa ‘menyukai’ banyak hal, banyak bidang ilmu. Bukan untuk menarik perhatian siapa pun, tapi simply, aku bahagia bisa mengetahui hal-hal baru dan mungkin tidak dianggap penting oleh sebagian orang. Nah, balik lagi ke masalah ‘terlalu santai’. Di saat orang-orang di sekitarku sibuk memikirkan skripsi, aku malah sibuk memikirkan hal lain. Bahkan sampai seorang temanku bilang begini, “dasar pemalas!” Waaaah saqit sih dibilang pemalas padahal ngga gitu keadaannya hahaha. Ya sudahlah, aku juga bukan tipe orang yang senang mengklarifikasi pendapat orang terhadapku. Kalau pun dibilang pemalas, terima saja~

4. Sebahagia itu ngelihat anak-anak PO FHUI 2014 :’) Ngga paham lagi sih sukacitanya. Berulangkali aku coba cek, jangan-jangan ada motivasi lain nih, tapi puji Debata engga yaaaa :’) rasanya kalau ngelihat orang-orang semangat ke persekutuan, jadi gimanaaaa gitu~

5. Selalu concern sama kondisi gereja di kampung halaman. Kalau dibandingin dengan di sini, semacam ketinggalan banget lho. Hmm apa yaaa, kalau denger cerita mama sih, rasanya pengen terjun langsung ke sana dan nanyain banyak hal ke para pemimpin gerejanya. Selalu rindu ada misionaris yang nyampe ke sana dan melayani jemaat-jemaat di sana. Banyak banget yang perlu dibenahi, bahkan dari akar-akarnya. Banyaaaaak banget. Dan ini yang ngebuat aku ngerasa “berutang budi” sama Tuhan. Hmmm gimana ya, intinya, aku juga pengen mereka di sana ngerasain hal yang aku rasain di sini. Pertumbuhan. Biar bagaimana pun, aku “dibesarkan” di gereja itu. Tapi gerejaku itu cenderung mengalami kebobrokan. Sedih. :’(

Bisakah kita ganti saja, jangan tembok? Karena aku lelah sekali membangunnya. Lelah, karena sebenarnya aku lebih suka yang tanpa tembok. Lelah, karena aku ngga pernah mempersiapkan material apa pun untuk membangunnya. Aku hampir kehabisan akal.
balada pembangunan tembok.

Because you are bored at Mount Everest level.

Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar. - 2 Korintus 3:16-18.

Bagaimana rasanya kehujanan? Kadang nyebelin, kadang nyenengin. Kalau kita emang lagi pengen hujan-hujanan, pasti kita seneng banget kehujanan. Tapi, kalau kita lagi mau pergi ke suatu tempat, terus kita lupa bawa payung, ya… bete banget dong kan, tiba-tiba kehujanan? Basahnya sih ngga seberapa (eh, lumayan sih), pride-nya itu lho.. lumer bersama tetesan air hujan. :))

Nah, itu kalau yang jadi partikel hujannya adalah air. Lah, kalau berkat?

Jadi, itulah yang lagi aku rasakan selama kurang-lebih 3 bulan ke belakang. Kehujanan berkat. Dimulai dari awal bulan Juni yang menggalaukan hati nurani dan sanubari—apakah mau magang atau tidak—sampai dengan awal September ini.

Tiga bulan ini adalah bulan-bulan penerimaan dan penyambutan mahasiswa baru di kampusku. Spesifiknya, penyambutan mahasiswa baru Kristen. Dimulai dari welcoming maba sampai dengan Pengenalan Sistem Akademik Fakultas dan PMH di fakultasku, Hukum. Aku pun terlibat dalam rangkaian kegiatan ini dan inilah yang menjadi tempat di mana suka dan duka itu berkondensasi menjadi curahan-curahan berkat yang turun dari Surga. :)

Banyak hal yang kurenungkan dan kupelajari selama tiga bulan masa pelayanan itu. Aku belajar untuk menundukkan egoku di bawah tangan Tuhan yang kuat. Aku belajar untuk mengasihi sesamaku dengan tidak berpura-pura. Aku belajar untuk semakin berserah di dalam doa-doaku kepada Tuhan yang adalah satu-satunya yang kumiliki saat itu. Masih jelas kuingat, bagaimana Dia sanggup menenangkan dan menghibur aku melalui banyak hal. Dari hal yang sederhana sampai hal yang kompleks. Dari lezatnya rasa bubur kacang hijau di simpang Kober—yang kunikmati sambil melepas penat—sampai pada rentetan kalimat-kalimat di dalam Alkitab yang kudapat melalui saat teduh.

The idea of Christian ministry—with its every essential point—has been placed in the heart of mine. Bukan aku, yang ‘mengusahakan’ itu. Memang semata-mata Dia, karena Dia sangat mengasihiku. Dia yang telah melembutkan hatiku yang licik ini sehingga masa-masa tiga bulan ini adalah masa-masa yang sangat aku syukuri, masa-masa yang mungkin tidak bisa aku dapat lagi di lain waktu. Tubuh dosa yang lelah sanggup dikuatkan-Nya hingga tak tega mengeluh. Kepala yang tak hentinya berpikir pun diberi-Nya waktu untuk tidur. Serta, inilah bagian yang paling aku sukai, emosi yang naik-turun ini pun distabilkan-Nya setiap hari, setiap waktu.

Mengutip kalimat di dalam buku Lady in Waiting—yang kuparafrasekan, masa single seharusnya adalah masa di mana kita mengoptimalkan waktu untuk melayani Tuhan. Masa di mana kita seharusnya selalu mengusahakan keutuhan di dalam-Nya. Karena mungkin setelah ‘tidak single’, kesempatan seperti ini akan sulit kita dapatkan. Ya, perhatian kita pasti terbagi dengan keluarga. Sesungguhnya, aku merasakan sekali bagaimana Tuhan ‘melengkapi’-ku, sehingga aku dimampukan-Nya untuk fokus pada pelayanan ini. Salah satu media yang digunakan-Nya untuk mengingatkanku dan memampukanku adalah gambar di bawah ini. Hidup ini adalah proses pembelajaran dan inilah yang juga aku pelajari selama 3 bulan ini (dan selamanya). Lucu ngga? :”)

image

Tulisan-tulisan itu kuambil dari buku Lady in Waiting. Bukan bikinan sendiri. Bijaksana amat beta, kalau bisa bikin sendiri. (._.)

So, yep, I thank God for giving me this chance of serving. I really thank Him for bringing me closer to Thee. I thank Him for making my eyes clearer in seeing His work. And, I thank Him for pouring me with His blessings through this ministry. I am so unconditionally loved by Him.

Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami. - 2 Korintus 4:17.

Amin.

Jangan berharap pada manusia, sebab ia tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?
Yesaya 2:22

explore-blog:

For Tolstoy's birthday, his timeless Calendar of Wisdom – a magnum opus, decades in the making, seeking to discern the meaning of life.

Pair with some thoughts on wisdom in the age of information.

Hm, thank you my friend, Arthur, for tweeting this. Bahagia :’)

Dari: ABBY!

Yeps. Semoga aku orang terakhir ya Bet, meskipun aku pengennya sih bener2 jam 23.59 gitu tapi yah… udah gatal.

Selamat ulang tahun Elisabeth Yosephine Maria(pul) Tambunan!!!
Semoga di umur yg semakin tua ini berkatnya semakin bertambah pull ya bet :’)
Candaaaa….

Aku cuma bisa berdoa biar Tuhan kasih yg terbaik buat kau bukan karena selama ini kau udh kasih yg terbaik buat Dia, tp semata2 karena Dia sayang sama kau.
Tumbuhlah menjadi Elisabeth yg dewasa, manis, bijak, dan suatu saat meraih sukses sehingga bisa jd kebanggaan di kampung kita itu ya Bet.

You are once-in-a-life-time kind of friend. Or girlfriend. Or wife (for your future husband).
You are not merely a “skipped-able” kind of person that come in someone’s life and easily go with no sign of existence.

Jadi jadilah seseorang yg luar biasa seperti layaknya orang pilihan. Tetaplah jadi Bebet yg tidak pernah menjadi batu sandungan buat orang lain.

Tak lupa, semoga CPH cepat dicelikkan matanya ya Bet. Semoga heaven on earth mu cepat2 menemukanmu wkwkk
Tetap jadi Bebet yang cerdas dan rajin juga.

Sukses untuk urusan “nyusun-menyusun”nya yang mungkin akan segera kau mulai, Bet.
Doakan aku yg mau kompre dalam minggu2 ini juga, btw :’)

Hmm pokoknya gatau lagi aku apa yg ada di hatimu, tapi nih aku kasih amin yg banyak buat doamu:
Amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin amin …~

God bless you!

WHOA WOO-HOOOO!

IT IS FINALLY THE LAST DAY OF THIS SILLY CHALLENGEEEE, GUYS!

I COULD NOT BE MORE EXCITED THAN THIS THAT I THOUGHT I WOULD JUMP INTO MY BED AND SLEEP AGAIN BECAUSE IT IS MY BIRTHDAY AND IT IS SUNDAY!

Wait.

What is the correlation between the last-day-of-challenge and your-birth-day?

Nothing. No. OMG.

Ok, soooo I forgot again to post this challenge on 30th of August but it’s fine, I think. ;)

So, it asked me about….
“Anything you want to post”

Well, I have just done reading a psychology article about coincidence. It gave me such a strange feeling lol. It shared me the idea of coincidental events through mathematics and medical point of view. Bla-bla-blah, it talked about probability theory and how every coincidental moment can affect our rational thinking. I just nodded and smiled at every single word I read. Furthermore, the one whom the writer of that article took as the expert named Elisabeth. What a coincidence it is! Lol. But, I believe that no such thing like coincidence because everything happens for a reason and I declare myself to stop analyzing any coincidental thingy that happened to me. Funny how I start my morning birthday reading this kind of thing but it’s ok, I got many lessons from it.

So, this is the ending of this challenge and I can’t believe I made it. Hahaha.

Special thanks to:
1. My brain on how it decided to join this challenge (OMG you were so clueless, lol).

2. My favourite month ever, August for being so memorable to me, especially in this year. Thank God for its thirty days that successfully made sense to me.

3. My not so smartphone for accompanying me to type this challenge whenever I feel like being glued on my bed and not moving and what-so-ever. U da real MVP.

4. My tumblr silent readers and followers, even though I am not sure if anyone read those posts, lol.

5. My fingers. You are the most wanted… what… uhm… yeah, finger.

Now, I am ready to start my new term, a fresh new start of being a dilligent student lol. Please anyone, pray for me!

GOOD BYE! :))

Day-29

A picture of myself.

Semoga setelah ulang tahun, saya sudah pasti dalam menentukan sikap. Semoga. Semoga. Semoga. Amin.
logically acceptable.

oupacademic:

n. Pie.

image

Image: Raspberry and blueberry tart by Alexander Kaiser. CC-BY-2.0 via Wikimedia Commons.

TORTAAAAA! #eh #itu #SPARTAAAAA!

Do you wish for anything at 11:11? If so, what do you wish for?

I’m sorry I do not and will never wish for anything at 11:11. But if I could refer wishing to praying, I would pray at 11:11 or anytime, for being resuscitated from these stupid thoughts, soon. I can’t resist them any longer.

Duh.

Belakangan ini ada yang sedikit berbeda denganku. Aku mulai kembali menutup diri dari beberapa orang. Kenapa aku katakan ‘kembali’? Karena dulu, aku pun pernah melakukannya. Kalian tahu, apa alasan yang membuatku memutuskan untuk begitu? Hanya satu: pengertian. Belakangan ini aku tidak merasakan ada yang akan mengerti apa yang hendak aku sampaikan. Jadi, menurutku, percuma saja aku membuka diri.

Aku merasakan betapa waktu punya kuasa untuk mengubah pengertian manusia. Waktu yang kita pakai akan memberikan pengertian tersendiri bagi kita. Semisal aku, ketika aku menghabiskan waktu sendirian, aku hanya akan menemukan diriku sendiri. Itu pengertianku tentang waktu pada saat itu. (Karenanya, memang baik sekali jika kita memiliki waktu untuk diri sendiri; belajar menemukan jati diri dan mengenal pribadi sendiri, supaya kita tahu menempatkan diri kita di berbagai aspek di dalam kehidupan ini). Jika aku bisa menemukan orang lain dalam kesendirianku tadi, tentulah hal itu berarti ada yang istimewa dengan orang tersebut. Hehehehe jadi malu. Lalu, ketika waktu tadi kita pakai bersama dengan orang lain, atau orang-orang lain, dia pasti akan memberikan pengertian yang sama bagi kita dan orang-orang tersebut atau setidaknya, pasti ada pengertian yang saling beririsan. Contohnya, tiga orang yang berjalan kaki bersama menuju sebuah rumah makan di siang hari pasti memiliki satu kesimpulan tentang siang itu: panas dan memegalkan kaki. Setidaknya, ketiga orang tersebut pasti sama-sama merasa bahwa, benar, mereka sedang bersama di siang itu; pengertian yang paling sederhana bagi mereka.

Inilah masalahnya. Belakangan ini, kami tidak telah memakai waktu yang sama, bersama-sama. Lagi, bukan waktu yang singkat, malahan cukup lama. Bagaimana mungkin kami mendapat pengertian yang sama tentang waktu itu? Bagaimana mungkin, ketika aku, sendirian, berjalan ke rumah makan di siang hari yang terik, tahu, bahwa, mereka yang saat itu mungkin sedang membaca buku di kamarnya, merasakan terik yang sama denganku? Waktu yang kita pakai memberikan pengertian tersendiri bagi kita. Dengan siapa kita memakainya, juga memberikan pengertian tersendiri bagi kita.

Kemudian, apakah yang menjadi kunci dari keterbukaan? Ya, adanya perasaan ‘dekat’ antara yang satu dengan yang lain. Dari manakah kedekatan itu berasal? Bisakah hanya melalui pemberian emotions di Path? Like di Instagram? Tidak. Lalu, apakah? Menurutku, jawabannya adalah komunikasi. Sebuah kamus bisnis mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses dua arah untuk mencapai pengertian yang sama tentang sesuatu, di mana setiap pihaknya tidak hanya bertukar informasi, berita, ide, dan perasaan, namun juga menciptakan dan membagikan artinya. Secara umum, komunikasilah yang menghubungkan orang-orang. Coba perhatikan lekat-lekat, tujuan komunikasi menurut kamus tersebut: mencapai pengertian yang sama. Ada yang bisa melihat apa kaitan antara yang kubahas sebelumnya tentang waktu dan komunikasi?

Jika kuelaborasikan, walaupun kita tidak menggunakan waktu secara bersama-sama, sebenarnya kita bisa mendapat pengertian yang sama dengan orang-orang tersebut, jika kita memiliki komunikasi yang baik dengan mereka. Tapi coba perhatikan sekali lagi, komunikasi adalah proses dua arah. Karena kalau satu arah, macet. Hehehehe. Oke, maksudku adalah, proses dua arah tidak bisa terjadi dengan sendirinya tanpa ada inisiatif dari kedua belah pihak. Ya, inilah masalah selanjutnya. Tidak ada satu pun dari aku dan mereka yang berhasil mempertahankan inisiatif ini. Akibatnya, kualitas komunikasi kami pun tidak bisa dikatakan baik. Dampaknya, tidak ada lagi keterbukaan.

Waktu-waktu yang kenyataannya kupakai sendirian belakangan ini, telah memberikan pengertian bagiku, bahwa tidak penting orang lain tahu masalahmu, yang penting kau sampaikan saja pada Tuhan, yang adalah sumber segala pengertian. Pun, Dia selalu bersamamu kan, selama ini? Jadi, Dia pasti merasakan yang kau rasakan, baik itu panas terik, hujan badai, dilalui bersama, kayak lagu.

Tetapi, karena hidup adalah untuk belajar, aku mau berusaha untuk mengubah apa yang bisa kuubah. Aku mau merasakan lagi keterbukaan dengan orang-orang di sekitarku. Aku juga mau merasakan mendapat dukungan dan bahu untuk bersandar (ceilah!). Iya, aku juga akan belajar untuk lebih berhikmat dalam mengetahui apa-apa saja yang layak untuk dibagikan. Aku akan belajar memperbaiki komunikasiku. Dengan natur diri yang tidak terlalu suka dengan komunikasi maya alias chatting, aku memang sulit untuk menjalin tali inisiatif tersebut. Aku lebih suka tidur dari pada chatting. Ya iyalah. (Kalau pun aku kedapatan chatting, pastilah itu untuk urusan yang penting. Pertanyaan lagi apa, udah makan belum, hari ini mau ke mana, won’t work). Ya, begitulah.

Jadi, berapa banyak dari kalian yang bisa menanggapi paragraf-paragraf di atas dengan bijaksana?