Elisabeth Yosephine

True-to-Life

GO OUT AND SEIZE THE DAY! :D

—Good bye for a little while.

Dirt - Florida Georgia Line

You get your hands in it
Plant your roots in it
Dusty head lights dance with your boots in it (dirt)
You write your name on it
Spin your tires on it
Build your corn field, whiskey
Bonfires on it (dirt)
You bet your life on it (yeah)

It’s that elm shade red rust clay
You grew up on
That plowed up ground
That your dad
Damned his luck on
That post game party field
You circle up on
And when it rains
You get stuck on
Drift a cloud back
Behind county roads
That you run up
The mud on her jeans
That she peeled off
And hung up
Her blue eyed
Summer time smile
Looks so good that it hurts
Makes you wanna build
A 10 percent down
White picket fence house on this dirt

You’ve mixed some sweat with it
Taken a shovel to it
You’ve stuck some crosses and some painted
Goal posts through it (dirt)
You know you came from it (dirt)
And some day you’ll return to

You know you came from it (dirt)

And some day you’ll return to
This elm shade red rust clay
You grew up on
That plowed up ground
That your dad
Damned his luck on
That post game party field
You circle up on
And when it rains
You get stuck on
Drift a cloud back
Behind county roads
That you run up
The mud on her jeans
That she peeled off
And hung up
Her blue eyed
Summer time smile
Looks so good that it hurts
Makes you wanna build
A 10 percent down
White picket fence house on this dirt

Makes you wanna build
A 10 percent down
White picket fence house on this dirt

You know you came from it
And some day you’ll return to it

Makan asam-garam itu ungkapan untuk orang yang berpengalaman; berkumur dengan larutan garam itu tips jika gusimu bengkak. Semoga cepat sembuh, Elisabeth!

Kamis, 17 Juli 2014.
Suara sekumpulan choristers dari University of Utah Singers menyanyikan lagu Alleluia oleh Ralph Manuel menggema di telingaku; membuatku begitu terhenyak. Semakin aku menjalani hari-hariku sebagai pelayan Tuhan, aku semakin merasa bersyukur. Aku selalu ingat, siapalah aku ini, sehingga Tuhanku yang Maha Mulia ini mau memanggilku dan memberikan beban yang sebegitunya di hatiku terhadap pelayanan ini? Foto ini adalah fotoku bersama tiga orang adik kelompok kecil yang aku pimpin. Dari kiri ke kanan, ada Tria Karunia, si lemah-lembut, Abigail Frida Chiquitta Simanjuntak si ceria, aku, dan Septriana Sembiring si hobi download. Meski sedari kecil aku begitu melekat dengan gereja, tidak pernah terlintas di pikiranku bahwa aku akan menjadi pemimpin kelompok kecil seperti ini. Tapi, semenjak aku dibina di persekutuan di kampusku, Tuhan seperti menyatakan segala hal. Segala yang Ia perkenankan yang membuatku tidak memiliki daya apa pun untuk menolaknya. Tidak henti-hentinya aku berdoa supaya kelompok kecilku ini semakin mengenal Tuhan dan kuasa kasih-Nya. Tidak henti-hentinya aku berdoa supaya aku bisa menjadi pemimpin yang benar. Alleluia!

Kamis, 17 Juli 2014.

Suara sekumpulan choristers dari University of Utah Singers menyanyikan lagu Alleluia oleh Ralph Manuel menggema di telingaku; membuatku begitu terhenyak. Semakin aku menjalani hari-hariku sebagai pelayan Tuhan, aku semakin merasa bersyukur. Aku selalu ingat, siapalah aku ini, sehingga Tuhanku yang Maha Mulia ini mau memanggilku dan memberikan beban yang sebegitunya di hatiku terhadap pelayanan ini? Foto ini adalah fotoku bersama tiga orang adik kelompok kecil yang aku pimpin. Dari kiri ke kanan, ada Tria Karunia, si lemah-lembut, Abigail Frida Chiquitta Simanjuntak si ceria, aku, dan Septriana Sembiring si hobi download. Meski sedari kecil aku begitu melekat dengan gereja, tidak pernah terlintas di pikiranku bahwa aku akan menjadi pemimpin kelompok kecil seperti ini. Tapi, semenjak aku dibina di persekutuan di kampusku, Tuhan seperti menyatakan segala hal. Segala yang Ia perkenankan yang membuatku tidak memiliki daya apa pun untuk menolaknya. Tidak henti-hentinya aku berdoa supaya kelompok kecilku ini semakin mengenal Tuhan dan kuasa kasih-Nya. Tidak henti-hentinya aku berdoa supaya aku bisa menjadi pemimpin yang benar. Alleluia!

(Source: instagram.com/natgeo)
Semua kita adalah bagian dari perubahan. Baik yang disengaja atau pun tidak. Baik yang terjadi dalam skala besar maupun kecil. Mengapa? Sebab kehidupan ini dinamis. Roda saja berputar, bumi pun. Siapalah kita, yang sanggup mengelak lagi menolak, sedang kita tinggal di dalamnya?
Kala aku melihat potret ini, aku terinspirasi untuk melihat lebih dalam dan tajam, dekat dan lekat. Mulanya aku melihat bahwa itu hanyalah foto dari berbagai bentuk adaptasi yang dilakukan oleh kepompong untuk melindungi dirinya dari mangsa. Ada yang seperti dedaunan kering, ada yang seperti tetesan air.
Kemudian aku terdiam sebentar. Persis seperti manusia, pikirku. Maksudku begini, dalam proses perubahan yang sedang dilakukannya menuju wujud kupu-kupu, dia tahu cara melindungi dirinya tanpa harus merusak dirinya. Dia cerdas dan Tuhan hebat.
Bagaimana dengan manusia?
Kemarin aku sempat membaca-baca berita dan artikel yang membahas mengenai globalisasi. Globalisasi yang menggerogoti manusia, yang merenggut kemanusiaannya, mengikis kepekaannya, dan yang memusatkan dia sebagai yang terutama. Globalisasi dan perubahan yang mengikutinya telah membodohi kita, pada satu sisi. Sisi yang mana tidak ada proses adaptasi yang baik di sana dan manusia malah merusak dirinya sendiri. Sisi di mana manusia tidak bisa menjadi seperti dedaunan kering atau pun tetesan air. Padahal manusia punya akal.
Jika kuandaikan globalisasi adalah mangsa bagi para kepompong itu, bilakah kita—manusia—paham bagaimana seharusnya kita beradaptasi agar kita tidak larut dalam perubahan yang merusak?

(Source: instagram.com/natgeo)

Semua kita adalah bagian dari perubahan. Baik yang disengaja atau pun tidak. Baik yang terjadi dalam skala besar maupun kecil. Mengapa? Sebab kehidupan ini dinamis. Roda saja berputar, bumi pun. Siapalah kita, yang sanggup mengelak lagi menolak, sedang kita tinggal di dalamnya?

Kala aku melihat potret ini, aku terinspirasi untuk melihat lebih dalam dan tajam, dekat dan lekat. Mulanya aku melihat bahwa itu hanyalah foto dari berbagai bentuk adaptasi yang dilakukan oleh kepompong untuk melindungi dirinya dari mangsa. Ada yang seperti dedaunan kering, ada yang seperti tetesan air.

Kemudian aku terdiam sebentar. Persis seperti manusia, pikirku. Maksudku begini, dalam proses perubahan yang sedang dilakukannya menuju wujud kupu-kupu, dia tahu cara melindungi dirinya tanpa harus merusak dirinya. Dia cerdas dan Tuhan hebat.

Bagaimana dengan manusia?

Kemarin aku sempat membaca-baca berita dan artikel yang membahas mengenai globalisasi. Globalisasi yang menggerogoti manusia, yang merenggut kemanusiaannya, mengikis kepekaannya, dan yang memusatkan dia sebagai yang terutama. Globalisasi dan perubahan yang mengikutinya telah membodohi kita, pada satu sisi. Sisi yang mana tidak ada proses adaptasi yang baik di sana dan manusia malah merusak dirinya sendiri. Sisi di mana manusia tidak bisa menjadi seperti dedaunan kering atau pun tetesan air. Padahal manusia punya akal.

Jika kuandaikan globalisasi adalah mangsa bagi para kepompong itu, bilakah kita—manusia—paham bagaimana seharusnya kita beradaptasi agar kita tidak larut dalam perubahan yang merusak?

Something about pain.

Augustus Waters once said, “that is the thing about pain. It demands to be felt.” I somehow agree, yeah this is parallel to Shakespeare’s quote saying, “feel the pain until it hurts no more.” And that’s what I did years ago, surviving any pain that once ever happened to me. The backstabbing friends, that being a victim of gigantic gossip you had never done like, ever. My nonsense three years and half relationship, and so on. I was a girl who had faced some of those maturity processes, earlier. My junior high school friends never really liked me maybe because I was the one who never failed at getting the b… oh I won’t brag. I only had ten close friends at my junior high school moment and by close, I really meant it. The rest of them didn’t know how hurt it was at that time. They gave me such a non-verbal bullying which was fortunately strengthening me, thank God.

I don’t wanna write other painful things for it would be such a non-appropriate way of an encouraging post on my purpose at first. Also, it is not good to remember the pain, right? Like, I also won’t let anyone know the biggest pain and the most hurtful moment I had. I would only share it if someone asked. My point is, Augustus and Shakespeare’s quotes may sound like ordinary quotes. But it is real, in real life or at least in my real life. Those are not only exist in The Fault in Our Stars or one of Shakespeare’s novels. The pain demands to be felt. It is like, not ignoring the feeling of being hurt, not afraid of crying over the hurtful situation you’re at, not trying to be that-super-one-when-you-actually-are-not. Whenever you feel like something crossed your line and built a wall telling you to give up, though, face it. You can’t help running from it but keeping your feet on the ground and saying it out loud, “HEY, I AM STRONGER THAN THIS. WHATEVER YOU’RE GOING TO GIVE ME, I KNOW AND WILL ALWAYS KNOW THAT I AM READY. BECAUSE MY GOD IS BIGGER THAN YOU!” Nah, these are lines I have always remembered in my head and looked like such a magic-spell for me. That was I have always said, since I was a kid, definitely. Yup, life is not always easy, right? Even the richest person on earth is the one who may feel it is difficult to find places to save his/her money—if you measure richness for having unmeasured money.

I learned to be strong by seeing my tough mom too. She is my role-model for she is my multi-talented mom and able to give thanks to God whatever it is. By the way, mom is the one who never gave me any presents even when I was announced getting scholarships from kindergarten to junior high school. She also never wanted to ‘praise’ me. I asked her why and she said that because it’s only God who should be praised, not me. Hahaha I know it sounds cliche and what she meant actually is, she never wanted to make my head grow bigger that my whole body will not been seen as a body but a kind of world cup ball—because it has been covered by my super big head. Oh what a long sentence to describe how crunchy I am.

Okay, let me back. It would take a lifetime to write how tough she is. Also, it will test your patience to read it. The thing is: I have got a real example of strong and independent woman in life. A very close example to me. Seeing her makes me so ashamed if I once realized that I had ever been too sad or too miserable towards every problem that caused pain in me. So I choose to stay strong.
That’s what I do until now, which successfully makes me a happier girl than before, every single day, but unfortunately, creates an image of me that I am emotionless, I am always looked cheerful (while I am not you know), and nothing bad has ever happened to me.

I know that because someone said like that and I just smiled, showing her that it was not true. I am just trying to always hold on what God wanted me to remember in 2 Tes 5:18. God’s will in me is to see me being grateful all the time that whatever life offers you, remember Him and say thanks. It will make your life full of more joy. Because through the good times and the bad, He is the best we always have. So, no more painful things should make us shiver, right?

Do not run. Face it and get the bonus of being strengthened more of each day. Feel the pain that demands to be felt. Feel it until it hurts no more. Literally, no more. So, that’s something about pain. Or maybe two things, or even everything, about pain.

See ya!

Elisabeth Yosephine.

Dua prinsip penting dalam hidup: true-to-life dan down-to-earth. Dua idiom terfavorit sepanjang masa. True-to-life berarti bersikap realistis. Buatku, sekalipun sikap realistis mengundang perdebatan, cuma itu yang bisa membawamu kepada solusi. Kalau bicara yang ideal-ideal doang mah ngga bakalan selesai. Kemudian, idiom down-to-earth artinya bersikap peka dan praktikal. Praktikal di sini lebih merujuk kepada ide dan gagasanmu. Ya aplikatif gitulah, jangan normatif. Hubungan kedua idiom ini adalah komplementer sempurna. Jadi, ingat, bawa, dan pakai keduanya. Jangan mau mengambang dan mengawang-awang.

Bingung level: penggunaan klitika

Hei hei come on. Let us be real. Apa yang terjadi dengan the-tough-Elisabeth belakangan ini ya? Kenapa ngerasa kosong dan lesu begitu? Iya sih, lagi ada persoalan di rumah yang bikin pengen pulang. Tapi, ngga seharusnya sampai seperti itu dong, kan? Toh, orangtuaku masih bisa mengatasinya dan saat ini Sagita udah makin dewasa untuk menasihati Andre. Ya begitulah. Adikku yang satu ini semakin membuatku pusing kepala saja. Aku mulai berpikir untuk meng-KK-kan (memuridkan) dia kalau aku kembali ke Medan. Yap, beban moral seorang anak sulung memang lumayan menguji. Selanjutnya apa? Nggak ada sih. Keluargaku sedang dalam keadaan baik dan sehat. Btw, aku kangen mereka :’) Tapi semuanya lagi sama-sama sibuk. Mereka sibuk mencari nafkah dan aku sibuk menghabiskan hasil pencarian mereka di sini. Huhu, bener kan? Kita memang cuma tau minta dan ngabisin. Huwa, ayo Beth, kembali berhemat. Money-budgeting yang baik menandakan penguasaan diri yang baik. Sip!
Masalah akademis? Sepertinya tidak. Aku berterima kasih apa pun hasilnya. Masalah organisasi? Engga juga sih. Belakangan udah bisa ngejalaninya dengan fit dan sehat, tanpa gangguan sakit ini dan itu. Relasi sama Tuhan juga baik, ya walau diisi air mata terus sih beberapa hari ini. Oh iya, apa lagi momen refleksi waktu berdoa sehabis nonton Fireproof. Huwaaa, itu luarrrrr biasa sedihnya. Entah memang aku yang cengeng atau gimana, tapi film ini ngebuat aku buka mata lagi. Nih aku tuliskan beberapa prinsip favoritku dalam film itu:

1. Be quick to listen, slow to speak and slow to get angry. Ini sih dari Alkitab banget ya… hehe.

2. When a man is trying to win the heart of a woman, he studies her. He learns her likes, dislikes, habits and hobbies. But after he wins her heart and marries her, he often stops learning about her. If the amount he studied her before marriage was equal to a high school degree, he should continue to learn about her until he gains a college degree, a master’s degree, and ultimately a doctorate degree. It is a lifelong journey that draws his heart ever closer to hers. Waaah, suka banget sama nasihat ini. Begitu juga buat perempuan sih. :)

3. …if this doctor is trying to woo you while you’re still married, what makes you think he won’t do that with someone else? Kalimat Oma Anna mengena sekali.

Hmmmm, terus sekarang heran, kenapa pas doa bisa sampe sesesenggukan itu, ya?

#hening

Satu hal yang perlu digarisbawahi di sini: Caleb (pemeran utama) mendapat teladan yang baik dari ayahnya untuk terus semangat mempertahankan pernikahannya. Yang artinya, betapa penting mencari pasangan hidup yang dekat pada Tuhan. Itu berpengaruh terus sampai pada keturunan-keturunan kita. Nah, kitanya juga harus mau dong makin deket sama Tuhan. Hehe, semangat! (~>_<)~

Terus lesunya karena apa dong?

Karena…

Karena……

You have got a good side? I have. I just do not use it too often. My bad side is so much more fun.

—Faye Kellerman.

Kepada Allah, kepada Bapa, Tuhan kami.

Bapa, apa Engkau sedang tersenyum saat itu?
Saat sambutan demi sambutan kami tuturkan pada mereka?
Saat puji-pujian kami lantunkan sembari mendekati mereka?
Saat kami menyapa dan mengajak mereka berkenalan?
Saat kami berusaha mencairkan suasana kala mereka sedang mengisi daftar hadir?

Tuhan, di situkah hati kami?
Saat kami bersatu dalam doa-doa kami?
Saat kami rela bangun pagi demi melayani?
Saat kami menjajakan barang danusan?
Saat kami mendengungkan ibadah melalui ajakan demi ajakan?

Allah, Kau yang paling rindu kehadiran mereka di kampus ini.
Kau yang paling rindu mereka terjangkau di kampus ini.
Kau yang paling rindu mereka lebih mengenalmu.
Sungguh, hanya Engkau, Tuhan.

Bukan lelah dan peluh yang mau kami hitung,
Bukan jumlah mahasiswa baru dan hasil danusan yang hendak kami perkarakan,
Bukan apa pun, bukan, bahkan acara penyambutan ini sekali pun.

Ya Bapa, Allah, Tuhan kami,
Tersenyumkah Engkau melihat hati kami hari ini?

——-

Acara: Penyambutan Mahasiswa Baru Persekutuan Oikumene UI 2014.
Lokasi: Balairung Universitas Indonesia.

Terima kasih untuk serta dan setia-Mu hari ini, Trinitas yang Maha Mulia.

Melakukan kebaikan adalah kebutuhan rohani. Melakukan kebaikan tidak terkait dengan apa pun kondisimu dan sekitarmu. Ia seharusnya timbul dari dalam hati nurani. Melakukan kebaikan tidak terkait dengan intelektualitas. Sebab ia tidak lahir dari logika, melainkan dari hati yang sedang dimurnikan oleh Tuhan. Berbuat baiklah senantiasa, sampai kau tak sanggup menjawab, “mengapa kau mau bersusah-payah melakukannya?” Kau tidak tahu, karena berbuat baik memang tidak membutuhkan alasan.

—Bukan manusia yang akan membalasnya, jadi memang bukan untuk manusia kau melakukannya. 

Mazmur 15:1-5

"Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?
Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dengan segenap hatinya, yang tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya;
yang memandang hina orang yang tersingkir, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang berpegang pada sumpah, walaupun rugi;
yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.”

Parrah.

Refrain #2 - Sweetest Love by Robin Thicke

Why do people smile when no one’s smiling?
Is it ‘cause they’re thinking of someone they’re loving
Keep on believing we are meant to be and
Nothing’s stopping you and me from going to heaven
Sweetest love..

Senja itu Ref pergi ke sebuah tempat minum kopi kesukaan muda-mudi di kota sepi di mana ia tinggal. Setelannya kasual, tipikal Ref. Jegging hitam dan crop-tee putih dengan tank-top hitam membalut tubuhnya yang tidak semampai itu. Ya, setidaknya jegging hitam berhasil menyamarkan volume betisnya yang kurang sedap dipandang mata. Rambutnya digerai begitu saja, Ref memang anti sekali menguncir rambutnya. Sakit dan berpotensi membuat rambut rontok, begitu elaknya. Di tangannya tampak beberapa komik. Ref baru saja membelinya dari toko buku kecil di perempatan antara rumahnya dan coffee shop itu. 

"Boleh, namaku Etude Gita Refrain. Kau bisa panggil aku Ref," katanya sewaktu seorang perempuan tua menanyakan apakah dia ingin mendaftar menjadi member di coffee shop tersebut. Dia pun mengambil tempat di sudut ruangan dan mulai membuka halaman per halaman komik-komik tersebut. Ref membaca dalam diam. Satu menit, lima menit, 10 menit berlalu. Ref memperbaiki posisi duduknya. Ini adalah keseribu kalinya dia berganti-ganti posisi kaki. Entahlah, tampaknya hatinya sedang gusar. 

"Pergi kau!" ujarnya sembari menggeleng-gelengkan kepala. Seorang pemuda yang baru saja tiba di tempat itu dan kebetulan mengambil tempat duduk di depan mejanya melongo kaget.

"Ada apa denganmu?" katanya sambil mengerutkan dahi.

Ref pun melepaskan kedua tangan yang sedari tadi digunakannya untuk menutup wajahnya, kemudian melihat pemuda yang sedang berdiri di depannya itu. 

"Al… mengapa kau selalu mengikutiku?" Ref memalingkan muka. Bukan karena marah, sepertinya; karena dia kelihatan berusaha menyamarkan gerakan bibir dan pipinya yang berkonspirasi dengan semesta untuk membentuk kurva favorit manusia di wajah itu dengan menyesap kopinya. Masih panas. Iya, kopinya masih panas dengan gumpalan-gumpalan uap di atasnya. Ref berusaha menahan serangan-melepuhkan-lidah oleh kopi yang diminumnya dengan sedikit terburu-buru itu. Demi apa pun dia berjanji tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu lagi. 

"Etude! Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau seharusnya berada di ruangan Biola 3 bersama Mr. Adam?" ujar Allegri sambil menarik salah satu kursi ke arah meja Ref.

Ref bingung. 

"Kau tahu dari mana?"

"Jadwal mingguan di depan lokerku." Al pun membuka laptopnya dan mulai mengutak-atik folder pribadinya. 

I got the sweetest love there ain’t nothing sweeter
I got the sweetest love ain’t nothing beat it
There ain’t nothing sweeter

"Oh.. ya, seharusnya. Tapi aku sedang sedikit malas. Aku mau menghibur diri sendiri dulu." ada nada kecewa di balik ucapan Ref. 

Tentu saja dia tahu. Aku satu-satunya mahasiswa yang mengambil kelas Biola sore untuk hari ini. Ya, tentu saja. Jadwal mingguan sudah pasti menuliskan namaku di sana. 

"Dan.. kau, sedang apa di sini?" Ref balik bertanya tanpa memalingkan pandangannya dari komik yang astaga-ternyata-dari-tadi-ada-dalam-posisi-terbalik. Cepat-cepat dia memutar posisi komiknya. Sayang, terlambat. Al sudah menyaksikannya. Al pun tak kuasa menahan senyumnya, namun Ref tidak melihat. 

"Aku hanya sedang mencari tempat untuk mengerjakan tugasku. Kau maklumkan saja." katanya sambil menatap poni Ref yang jatuh sempurna di atas dahinya. Ref tak kunjung meluputkan pandangannya dari komik yang sedang dibacanya. Ref hanya membentuk vokal "O" dengan kedua bibirnya untuk membalas ucapan Al. 

Al melipat kedua tangannya di atas meja dan memandangi sosok perempuan yang berhasil membuat hari-harinya belakangan ini tak menentu.  

Every morning has been so different lately. Opening eyes and then creating that curve on my face came at once, in a different feeling. Seemed like something good was going to make my whole day. Also, every night turned to be more beautiful than ever. I thought it wasn’t the stars that shone brighter; nor the moon that reflected the sunlight at its best. 

Tak lama, gerakan-Ref-mengambil-cangkir-kopinya membuyarkan pandangan Al. Dia pun memutuskan untuk berkutat lagi dengan perangkat elektronik yang ada di hadapannya ini. Al mengetik sesuatu sambil tersenyum. Agak tidak waras, tampaknya. Kemudian Ref melirik Al dari ekor matanya. 

Ah, dia sibuk sekali. Lagi chatting sama siapa, sih?

Now we’re clever is about to inch just one ladder
It gets better every second were together
Oooh baby it feels so right
A new beginning starts tonight
The reason for wedding songs
Is because of you and me and
Sweetest love

Puluhan menit berlalu dengan begitu saja. Yang satu menyibukkan diri dengan yang lain; yang lain pun demikian. Apa yang terjadi dengan dua makhluk ini? Bagaikan dipisahkan oleh ruang kaca kedap suara, enggan berkata, urung berbicara. Membuat waktu terasa membosankan sekali. Padahal, kalau saja ada alat pendeteksi gugup dan deru jantung, mungkin alat itu rentan rusak, sebab ada yang tidak biasa di sana. Ada sesuatu yang sederhana namun selalu dibuat rumit.

Begitu pun membingungkannya, sesungguhnya Ref merasakan ketenangan yang luar biasa di dalam hatinya. Ketenangan yang tidak dibuat-buat atau dipaksa-paksa. Berada hanya kurang dari 1 meter dari Al membuat seluruh sel di dalam otaknya stabil.

Merasakan deru jari-jari tangan Al di atas laptop menyeimbangkan irama jantungnya, menyusun setiap partikel di hatinya kembali ke tempat di mana mereka seharusnya berada. Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang terlontar dari Al membuat Ref kembali pada inti dirinya. Membuat Ref belajar mengenali dirinya sendiri. Lagi dan lagi. 

"Heh, Etude! Kenapa kau suka sekali membaca komik?"

"Ah tidak apa-apa, aku senang pada visualisasi. Apa pun itu. Itu membuatku mampu berimajinasi dengan leluasa dan membuatku masuk ke dalam arena hidup yang lain, yang aku tidak pernal alami sebelumnya. Seru."

Atau..

"Apa-apaan itu, Etude? Alat setrum? Kau gunakan pada siapa?"

"Hahaha, tampangmu membuatku sakit perut. Kau tenang saja, bukan kutujukan padamu. Belakangan ini aku sedikit insecure kalau aku melewati perempatan itu, kau tahu kan, di sana banyak sekali preman jalanan yang senang menggangguku dan poniku."

Ya, begitulah. Seperti pertanyaan, belakangan ini Al telah menolongnya kembali pada dirinya. Al membantunya menemukan denotasi atas apa yang terkias di dalam diri Ref, yang tidak pernah disadari oleh gadis itu. Al adalah pertanyaan-pertanyaan itu. 

Finally I can’t believe, ‘cause you and me, you’re my sweetest love..

Mungkinkah dia pun adalah pertanyaan bagi Al? 

Now I got that feeling in my gut
Now I need your fire in my life
Now I wanna give you love so much
And I keep on feeling my sweet, my sweet
Sweetest love

Tidak pernah sebelumnya ada senyum yang melekat sebegitu tulus dan bahagianya di wajah Al. Yang benar saja, terbuat dari apakah Ref ini, sehingga Al tak sanggup memungkiri ada perasaan yang aneh ini di dalam hatinya?

Entah bagaimana terjadi, dia menyukai setiap jawaban yang diberikan oleh Ref terhadap pertanyaan-pertanyaannya. Sesederhana apa pun, sebodoh apa pun, dengan gelak tawa Ref yang semakin menyukakan pikirannya. Al seperti sedang belajar bertanya ketika mendengar jawaban demi jawaban Ref. Selalu ingin tahu, selalu. 

 I can’t believe, ‘cause you and me, you’re my sweetest love..

Hai, Etude Gita Refrain. Kau tidak mau menanyaiku?

Hai, penggelak tawa dan penghapus lara. 
Bukan kebetulan jikalau malam itu kita boleh berjumpa. Ya, kau tahu, tidak ada satu siklus pun yang luput dari cara-Nya. Tidak ada satu plot pun yang urung Dia rancang. Karena aku, yang Ia kasihi ini, berhasil mengartikan pertemuan kita kemarin bak oase di padang belantara. Ah, mungkin kau merasa aku teramat berlebihan. Tapi, begitulah adanya.
Kalian tahu, semakin lama semakin aku sadar, kita bukanlah kita yang dulu. Bukan yang dulu bagaimanakah? Entahlah, akan menjadi sebuah tulisan yang sangat panjang, jika aku menceritakannya di sini.
Aku sedikit tersentak saat pembicaraan kita mulai dihiasi dengan, “Kau ingin kerja di mana?” atau, “Aku punya passion, tapi aku rasa itu terlalu tinggi.”, dan berbagai percakapan serius lainnya. Ini berhasil menciptakan dilematisme yang berujung pada kontemplasi yang lumayan menyita ego.
Tapi, itu semua benar. Benar, kita berubah, dan aku senang perubahan yang ada ternyata lebih menyegarkan. Benar, waktu telah mengikis kekanak-kanakan kita, hingga kita bukan lagi sekumpulan perempuan yang tidak tahu tujuan hidupnya. Benar, zaman telah menajamkan idealisme, realisme dan optimisme kita dalam menelusuri jalan cita kita. Benar, kebenaran-Nya telah membuahkan iman yang kian hari kian teguh akan hari depan yang mungkin penuh peluh. Benar, dan inilah yang paling benar, menjalani kehidupan di ibukota membuat kita menyadari betapa banyak kepalsuan yang sayangnya, teramat nyata untuk ditutup-tutupi.
Hingga saat ini aku bertelut dan mengaku, kita hanyalah objek dari perubahan; segenggam asa yang dipoles masa.
Hanya saja, janganlah kiranya kita tertunduk pada kefasikan metamorfosa yang menghinggapi kita. Kuat kuyakini, Sang Pencipta adalah Maha Pemelihara, yang enggan menelantarkan kita. Biarlah kita tetap seperti kita yang namun semakin berkarya. Kau paham maksudku, kan? Allah, Sang Pemelihara tiada mungkin biarkan kita tak berarah.

Hai, penggelak tawa dan penghapus lara. Bukan kebetulan jikalau malam itu kita boleh berjumpa. Ya, kau tahu, tidak ada satu siklus pun yang luput dari cara-Nya. Tidak ada satu plot pun yang urung Dia rancang. Karena aku, yang Ia kasihi ini, berhasil mengartikan pertemuan kita kemarin bak oase di padang belantara. Ah, mungkin kau merasa aku teramat berlebihan. Tapi, begitulah adanya.

Kalian tahu, semakin lama semakin aku sadar, kita bukanlah kita yang dulu. Bukan yang dulu bagaimanakah? Entahlah, akan menjadi sebuah tulisan yang sangat panjang, jika aku menceritakannya di sini.

Aku sedikit tersentak saat pembicaraan kita mulai dihiasi dengan, “Kau ingin kerja di mana?” atau, “Aku punya passion, tapi aku rasa itu terlalu tinggi.”, dan berbagai percakapan serius lainnya. Ini berhasil menciptakan dilematisme yang berujung pada kontemplasi yang lumayan menyita ego.

Tapi, itu semua benar. Benar, kita berubah, dan aku senang perubahan yang ada ternyata lebih menyegarkan. Benar, waktu telah mengikis kekanak-kanakan kita, hingga kita bukan lagi sekumpulan perempuan yang tidak tahu tujuan hidupnya. Benar, zaman telah menajamkan idealisme, realisme dan optimisme kita dalam menelusuri jalan cita kita. Benar, kebenaran-Nya telah membuahkan iman yang kian hari kian teguh akan hari depan yang mungkin penuh peluh. Benar, dan inilah yang paling benar, menjalani kehidupan di ibukota membuat kita menyadari betapa banyak kepalsuan yang sayangnya, teramat nyata untuk ditutup-tutupi.

Hingga saat ini aku bertelut dan mengaku, kita hanyalah objek dari perubahan; segenggam asa yang dipoles masa.

Hanya saja, janganlah kiranya kita tertunduk pada kefasikan metamorfosa yang menghinggapi kita. Kuat kuyakini, Sang Pencipta adalah Maha Pemelihara, yang enggan menelantarkan kita. Biarlah kita tetap seperti kita yang namun semakin berkarya. Kau paham maksudku, kan? Allah, Sang Pemelihara tiada mungkin biarkan kita tak berarah.