Elisabeth Yosephine Maria

I am a 20-year-old buddy who currently stucks in law school. I believe in the One who died at the cross years ago because of me and you. I'm a sister of two young creatures who often make my head spin. One of the best moments I've ever had is when I got A on my Mandarin language test. Clap-clap!
Recent Tweets @elisabethym
LIKES
FOLLOWING

"Just the two of us. We can make it if we try." - Bill Withers.

1. She always ends up knowing more than she really wants to.

2. It drives her crazy to not understand why someone did something.

3. She likes to keep her private life private. What you know about her is usually what she wants you to know.

4. She knows what she wants and she won’t waste time on something she knows isn’t going to work out.

5. You can’t change her opinion by telling her yours, your best bet is to tell her some facts.

6. 't like being mad at people, so she just cuts them off and feels nothing towards them.

7. All these people constantly fall in and out of love, but will only truly love a few people in her lifetime.

8. hates to let people down, she tries her best to keep her word at all times.

9. She isn’t big on confrontation, but when you push her, she says things that definitely cross the line.

10. She loves to spend time with the loved ones.

11. She is naturally introverted and only really opens up to the closest to her.

12. The little things are everything to her. The little details going right or wrong can determine her whole mindset.

13. She will speak her mind and tell you like it is.

14. She is often accused of pushing people away, becoming distant and/or shutting people out completely.

15. She is comfortable being her own person. She has a strong sense of self.

16. She is not the type to just believe anything she hears. She goes straight to the beginning source to get the information.

17. Some people might find cold or emotionally detached because she lives in her minds, not in her emotions and feelings.

18. She sees no point in going halfway, it’s either all or nothing.

19. She is always aware of her surroundings. She notices everything even if it seems like she doesn’t.

20. Though is caring and considerate, she can get irritated quickly.

21. She can be either really shy or really sociable.

22. She is not phony & she will not smile in your face. If she doesn’t like you, she’ll ignore your existence.

23. She hates to argue, but she likes a good debate.

24. She loves intellectual stimulation. Get her mind going, and you have her attention.

25. She may play dumb at times, but she always knows what’s going on.

Well, she is me, hahaha. I write this not to make sure that people get me right, but to make sure that I know myself well. Take it easy.

Cheers and XO!

(Sumber ilustrasi: ifansevenfoldism.blogspot.com)

Dentuman deru langkah-langkah kaki yang berlalu-lalang menjadi ritme di tengah paduan tawa berbagai jenis suara senja itu. Aku melirik ke atas; ah, kanvas Sang Pencipta sudah sedikit buram ternyata. Kutebak saja, sebentar lagi suara adzan maghrib akan berkumandang dan voila, tepat sekali. Aku sedang berjalan menyebrangi rel kereta listrik di salah satu stasiun di selatan Jakarta saat potret mengharukan itu terjadi. 

Seorang pria renta tampak menenteng-nenteng karung besar di pundak kanannya. Di tangan kirinya dia memegang bungkusan kecil yang mungkin berisikan nasi serta air minum. Dia mondar-mandir kebingungan; di emperan toko manakah aku dapat menumpang dan meletakkan karung ini? Mungkin begitu pikirnya. Aku terus saja memerhatikannya sambil berjalan mendekat ketika tak sengaja dia melihatku. Karung yang ada di pundaknya itu berisi sampah-sampah yang entah berasal dari mana saja. Ya Tuhan, tatapannya sangat sayu, selaput matanya tampak berkaca-kaca. Wajahnya begitu keriput, kulit-kulit tangan dan kakinya begitu kusam dan legam terbakar sinar matahari. Tatapannya seperti hendak berkata, “Halo Nak, mengapa melihatku begitu?” Aku memang sedang terburu-buru sehingga dengan refleks aku mengalihkan pandanganku dan berjalan menjauh. Namun aku kembali berbalik, kuperhatikan lagi kakek tua itu. Ternyata dia duduk di emperan toko jam tangan di dekat stasiun itu dan langsung membuka bungkusan tadi untuk segera disantap sebagai hidangan sederhana berbuka puasa hari ini. Aku pun tersenyum. Ah, hidup.

Tuhan, terima kasih untuk kakek tua ini. Mungkin hanya dengan memungut sampahlah dia bisa beroleh sesuap nasi setiap harinya. Aku tidak yakin dia punya tempat tinggal dan kehidupan yang menyenangkan. Setiap hari dia berperang melawan matahari, debu, dan sampah. Malah, dengan usia yang setua itu dia masih mau menjalankan kewajibannya sebagai umat beragama. Mungkin dia hanya berbuka puasa dengan nasi dan lauk seadanya. Mungkin dia tidak bisa seperti orang lain yang bahkan bisa melakukan reservasi di restoran ternama di kota untuk melepas lapar dan dahaga. Mungkin memang demikian adanya. 

Terima kasih Tuhan, karena kau telah mengajarkanku lagi cara mensyukuri setiap rutinitas pagi yang tidak seberat yang dialami oleh kakek ini, rasa nyaman dalam suatu hunian, setiap makanan yang bisa aku santap, setiap jenis minuman yang boleh kuteguk, setiap hela napas ini. 

Terima kasih juga Tuhan, karena dari pemandangan ini aku belajar juga untuk taat pada-Mu apa pun kondisi yang kualami. 


P.S.:
Terima kasih Kek, sudah membersihkan jalanan dari sampah-sampah itu.

(Sumber ilustrasi: ifansevenfoldism.blogspot.com)

Dentuman deru langkah-langkah kaki yang berlalu-lalang menjadi ritme di tengah paduan tawa berbagai jenis suara senja itu. Aku melirik ke atas; ah, kanvas Sang Pencipta sudah sedikit buram ternyata. Kutebak saja, sebentar lagi suara adzan maghrib akan berkumandang dan voila, tepat sekali. Aku sedang berjalan menyebrangi rel kereta listrik di salah satu stasiun di selatan Jakarta saat potret mengharukan itu terjadi.

Seorang pria renta tampak menenteng-nenteng karung besar di pundak kanannya. Di tangan kirinya dia memegang bungkusan kecil yang mungkin berisikan nasi serta air minum. Dia mondar-mandir kebingungan; di emperan toko manakah aku dapat menumpang dan meletakkan karung ini? Mungkin begitu pikirnya. Aku terus saja memerhatikannya sambil berjalan mendekat ketika tak sengaja dia melihatku. Karung yang ada di pundaknya itu berisi sampah-sampah yang entah berasal dari mana saja. Ya Tuhan, tatapannya sangat sayu, selaput matanya tampak berkaca-kaca. Wajahnya begitu keriput, kulit-kulit tangan dan kakinya begitu kusam dan legam terbakar sinar matahari. Tatapannya seperti hendak berkata, “Halo Nak, mengapa melihatku begitu?” Aku memang sedang terburu-buru sehingga dengan refleks aku mengalihkan pandanganku dan berjalan menjauh. Namun aku kembali berbalik, kuperhatikan lagi kakek tua itu. Ternyata dia duduk di emperan toko jam tangan di dekat stasiun itu dan langsung membuka bungkusan tadi untuk segera disantap sebagai hidangan sederhana berbuka puasa hari ini. Aku pun tersenyum. Ah, hidup.

Tuhan, terima kasih untuk kakek tua ini. Mungkin hanya dengan memungut sampahlah dia bisa beroleh sesuap nasi setiap harinya. Aku tidak yakin dia punya tempat tinggal dan kehidupan yang menyenangkan. Setiap hari dia berperang melawan matahari, debu, dan sampah. Malah, dengan usia yang setua itu dia masih mau menjalankan kewajibannya sebagai umat beragama. Mungkin dia hanya berbuka puasa dengan nasi dan lauk seadanya. Mungkin dia tidak bisa seperti orang lain yang bahkan bisa melakukan reservasi di restoran ternama di kota untuk melepas lapar dan dahaga. Mungkin memang demikian adanya.

Terima kasih Tuhan, karena kau telah mengajarkanku lagi cara mensyukuri setiap rutinitas pagi yang tidak seberat yang dialami oleh kakek ini, rasa nyaman dalam suatu hunian, setiap makanan yang bisa aku santap, setiap jenis minuman yang boleh kuteguk, setiap hela napas ini.

Terima kasih juga Tuhan, karena dari pemandangan ini aku belajar juga untuk taat pada-Mu apa pun kondisi yang kualami.


P.S.:
Terima kasih Kek, sudah membersihkan jalanan dari sampah-sampah itu.

GO OUT AND SEIZE THE DAY! :D
Good bye for a little while.

You get your hands in it
Plant your roots in it
Dusty head lights dance with your boots in it (dirt)
You write your name on it
Spin your tires on it
Build your corn field, whiskey
Bonfires on it (dirt)
You bet your life on it (yeah)

It’s that elm shade red rust clay
You grew up on
That plowed up ground
That your dad
Damned his luck on
That post game party field
You circle up on
And when it rains
You get stuck on
Drift a cloud back
Behind county roads
That you run up
The mud on her jeans
That she peeled off
And hung up
Her blue eyed
Summer time smile
Looks so good that it hurts
Makes you wanna build
A 10 percent down
White picket fence house on this dirt

You’ve mixed some sweat with it
Taken a shovel to it
You’ve stuck some crosses and some painted
Goal posts through it (dirt)
You know you came from it (dirt)
And some day you’ll return to

You know you came from it (dirt)

And some day you’ll return to
This elm shade red rust clay
You grew up on
That plowed up ground
That your dad
Damned his luck on
That post game party field
You circle up on
And when it rains
You get stuck on
Drift a cloud back
Behind county roads
That you run up
The mud on her jeans
That she peeled off
And hung up
Her blue eyed
Summer time smile
Looks so good that it hurts
Makes you wanna build
A 10 percent down
White picket fence house on this dirt

Makes you wanna build
A 10 percent down
White picket fence house on this dirt

You know you came from it
And some day you’ll return to it

Makan asam-garam itu ungkapan untuk orang yang berpengalaman; berkumur dengan larutan garam itu tips jika gusimu bengkak. Semoga cepat sembuh, Elisabeth!

Kamis, 17 Juli 2014.

Suara sekumpulan choristers dari University of Utah Singers menyanyikan lagu Alleluia oleh Ralph Manuel menggema di telingaku; membuatku begitu terhenyak. Semakin aku menjalani hari-hariku sebagai pelayan Tuhan, aku semakin merasa bersyukur. Aku selalu ingat, siapalah aku ini, sehingga Tuhanku yang Maha Mulia ini mau memanggilku dan memberikan beban yang sebegitunya di hatiku terhadap pelayanan ini? Foto ini adalah fotoku bersama tiga orang adik kelompok kecil yang aku pimpin. Dari kiri ke kanan, ada Tria Karunia, si lemah-lembut, Abigail Frida Chiquitta Simanjuntak si ceria, aku, dan Septriana Sembiring si hobi download. Meski sedari kecil aku begitu melekat dengan gereja, tidak pernah terlintas di pikiranku bahwa aku akan menjadi pemimpin kelompok kecil seperti ini. Tapi, semenjak aku dibina di persekutuan di kampusku, Tuhan seperti menyatakan segala hal. Segala yang Ia perkenankan yang membuatku tidak memiliki daya apa pun untuk menolaknya. Tidak henti-hentinya aku berdoa supaya kelompok kecilku ini semakin mengenal Tuhan dan kuasa kasih-Nya. Tidak henti-hentinya aku berdoa supaya aku bisa menjadi pemimpin yang benar. Alleluia!

(Source: instagram.com/natgeo)

Semua kita adalah bagian dari perubahan. Baik yang disengaja atau pun tidak. Baik yang terjadi dalam skala besar maupun kecil. Mengapa? Sebab kehidupan ini dinamis. Roda saja berputar, bumi pun. Siapalah kita, yang sanggup mengelak lagi menolak, sedang kita tinggal di dalamnya?

Kala aku melihat potret ini, aku terinspirasi untuk melihat lebih dalam dan tajam, dekat dan lekat. Mulanya aku melihat bahwa itu hanyalah foto dari berbagai bentuk adaptasi yang dilakukan oleh kepompong untuk melindungi dirinya dari mangsa. Ada yang seperti dedaunan kering, ada yang seperti tetesan air.

Kemudian aku terdiam sebentar. Persis seperti manusia, pikirku. Maksudku begini, dalam proses perubahan yang sedang dilakukannya menuju wujud kupu-kupu, dia tahu cara melindungi dirinya tanpa harus merusak dirinya. Dia cerdas dan Tuhan hebat.

Bagaimana dengan manusia?

Kemarin aku sempat membaca-baca berita dan artikel yang membahas mengenai globalisasi. Globalisasi yang menggerogoti manusia, yang merenggut kemanusiaannya, mengikis kepekaannya, dan yang memusatkan dia sebagai yang terutama. Globalisasi dan perubahan yang mengikutinya telah membodohi kita, pada satu sisi. Sisi yang mana tidak ada proses adaptasi yang baik di sana dan manusia malah merusak dirinya sendiri. Sisi di mana manusia tidak bisa menjadi seperti dedaunan kering atau pun tetesan air. Padahal manusia punya akal.

Jika kuandaikan globalisasi adalah mangsa bagi para kepompong itu, bilakah kita—manusia—paham bagaimana seharusnya kita beradaptasi agar kita tidak larut dalam perubahan yang merusak?

Random ngecek tumblr jam segini, terus nemu ini yang bikin current expression jadi→ :’)

Random ngecek tumblr jam segini, terus nemu ini yang bikin current expression jadi→ :’)

(via spiritualinspiration)

Augustus Waters once said, “that is the thing about pain. It demands to be felt.” I somehow agree, yeah this is parallel to Shakespeare’s quote saying, “feel the pain until it hurts no more.” And that’s what I did years ago, surviving any pain that once ever happened to me. The backstabbing friends, that being a victim of gigantic gossip you had never done like, ever. My nonsense three years and half relationship, and so on. I was a girl who had faced some of those maturity processes, earlier. My junior high school friends never really liked me maybe because I was the one who never failed at getting the b… oh I won’t brag. I only had ten close friends at my junior high school moment and by close, I really meant it. The rest of them didn’t know how hurt it was at that time. They gave me such a non-verbal bullying which was fortunately strengthening me, thank God.

I don’t wanna write other painful things for it would be such a non-appropriate way of an encouraging post on my purpose at first. Also, it is not good to remember the pain, right? Like, I also won’t let anyone know the biggest pain and the most hurtful moment I had. I would only share it if someone asked. My point is, Augustus and Shakespeare’s quotes may sound like ordinary quotes. But it is real, in real life or at least in my real life. Those are not only exist in The Fault in Our Stars or one of Shakespeare’s novels. The pain demands to be felt. It is like, not ignoring the feeling of being hurt, not afraid of crying over the hurtful situation you’re at, not trying to be that-super-one-when-you-actually-are-not. Whenever you feel like something crossed your line and built a wall telling you to give up, though, face it. You can’t help running from it but keeping your feet on the ground and saying it out loud, “HEY, I AM STRONGER THAN THIS. WHATEVER YOU’RE GOING TO GIVE ME, I KNOW AND WILL ALWAYS KNOW THAT I AM READY. BECAUSE MY GOD IS BIGGER THAN YOU!” Nah, these are lines I have always remembered in my head and looked like such a magic-spell for me. That was I have always said, since I was a kid, definitely. Yup, life is not always easy, right? Even the richest person on earth is the one who may feel it is difficult to find places to save his/her money—if you measure richness for having unmeasured money.

I learned to be strong by seeing my tough mom too. She is my role-model for she is my multi-talented mom and able to give thanks to God whatever it is. By the way, mom is the one who never gave me any presents even when I was announced getting scholarships from kindergarten to junior high school. She also never wanted to ‘praise’ me. I asked her why and she said that because it’s only God who should be praised, not me. Hahaha I know it sounds cliche and what she meant actually is, she never wanted to make my head grow bigger that my whole body will not been seen as a body but a kind of world cup ball—because it has been covered by my super big head. Oh what a long sentence to describe how crunchy I am.

Okay, let me back. It would take a lifetime to write how tough she is. Also, it will test your patience to read it. The thing is: I have got a real example of strong and independent woman in life. A very close example to me. Seeing her makes me so ashamed if I once realized that I had ever been too sad or too miserable towards every problem that caused pain in me. So I choose to stay strong.
That’s what I do until now, which successfully makes me a happier girl than before, every single day, but unfortunately, creates an image of me that I am emotionless, I am always looked cheerful (while I am not you know), and nothing bad has ever happened to me.

I know that because someone said like that and I just smiled, showing her that it was not true. I am just trying to always hold on what God wanted me to remember in 2 Tes 5:18. God’s will in me is to see me being grateful all the time that whatever life offers you, remember Him and say thanks. It will make your life full of more joy. Because through the good times and the bad, He is the best we always have. So, no more painful things should make us shiver, right?

Do not run. Face it and get the bonus of being strengthened more of each day. Feel the pain that demands to be felt. Feel it until it hurts no more. Literally, no more. So, that’s something about pain. Or maybe two things, or even everything, about pain.

See ya!

Elisabeth Yosephine.

Dua prinsip penting dalam hidup: true-to-life dan down-to-earth. Dua idiom terfavorit sepanjang masa. True-to-life berarti bersikap realistis. Buatku, sekalipun sikap realistis mengundang perdebatan, cuma itu yang bisa membawamu kepada solusi. Kalau bicara yang ideal-ideal doang mah ngga bakalan selesai. Kemudian, idiom down-to-earth artinya bersikap peka dan praktikal. Praktikal di sini lebih merujuk kepada ide dan gagasanmu. Ya aplikatif gitulah, jangan normatif. Hubungan kedua idiom ini adalah komplementer sempurna. Jadi, ingat, bawa, dan pakai keduanya. Jangan mau mengambang dan mengawang-awang.

Hei hei come on. Let us be real. Apa yang terjadi dengan the-tough-Elisabeth belakangan ini ya? Kenapa ngerasa kosong dan lesu begitu? Iya sih, lagi ada persoalan di rumah yang bikin pengen pulang. Tapi, ngga seharusnya sampai seperti itu dong, kan? Toh, orangtuaku masih bisa mengatasinya dan saat ini Sagita udah makin dewasa untuk menasihati Andre. Ya begitulah. Adikku yang satu ini semakin membuatku pusing kepala saja. Aku mulai berpikir untuk meng-KK-kan (memuridkan) dia kalau aku kembali ke Medan. Yap, beban moral seorang anak sulung memang lumayan menguji. Selanjutnya apa? Nggak ada sih. Keluargaku sedang dalam keadaan baik dan sehat. Btw, aku kangen mereka :’) Tapi semuanya lagi sama-sama sibuk. Mereka sibuk mencari nafkah dan aku sibuk menghabiskan hasil pencarian mereka di sini. Huhu, bener kan? Kita memang cuma tau minta dan ngabisin. Huwa, ayo Beth, kembali berhemat. Money-budgeting yang baik menandakan penguasaan diri yang baik. Sip!
Masalah akademis? Sepertinya tidak. Aku berterima kasih apa pun hasilnya. Masalah organisasi? Engga juga sih. Belakangan udah bisa ngejalaninya dengan fit dan sehat, tanpa gangguan sakit ini dan itu. Relasi sama Tuhan juga baik, ya walau diisi air mata terus sih beberapa hari ini. Oh iya, apa lagi momen refleksi waktu berdoa sehabis nonton Fireproof. Huwaaa, itu luarrrrr biasa sedihnya. Entah memang aku yang cengeng atau gimana, tapi film ini ngebuat aku buka mata lagi. Nih aku tuliskan beberapa prinsip favoritku dalam film itu:

1. Be quick to listen, slow to speak and slow to get angry. Ini sih dari Alkitab banget ya… hehe.

2. When a man is trying to win the heart of a woman, he studies her. He learns her likes, dislikes, habits and hobbies. But after he wins her heart and marries her, he often stops learning about her. If the amount he studied her before marriage was equal to a high school degree, he should continue to learn about her until he gains a college degree, a master’s degree, and ultimately a doctorate degree. It is a lifelong journey that draws his heart ever closer to hers. Waaah, suka banget sama nasihat ini. Begitu juga buat perempuan sih. :)

3. …if this doctor is trying to woo you while you’re still married, what makes you think he won’t do that with someone else? Kalimat Oma Anna mengena sekali.

Hmmmm, terus sekarang heran, kenapa pas doa bisa sampe sesesenggukan itu, ya?

#hening

Satu hal yang perlu digarisbawahi di sini: Caleb (pemeran utama) mendapat teladan yang baik dari ayahnya untuk terus semangat mempertahankan pernikahannya. Yang artinya, betapa penting mencari pasangan hidup yang dekat pada Tuhan. Itu berpengaruh terus sampai pada keturunan-keturunan kita. Nah, kitanya juga harus mau dong makin deket sama Tuhan. Hehe, semangat! (~>_<)~

Terus lesunya karena apa dong?

Karena…

Karena……

You have got a good side? I have. I just do not use it too often. My bad side is so much more fun.
Faye Kellerman.

Kepada Allah, kepada Bapa, Tuhan kami.

Bapa, apa Engkau sedang tersenyum saat itu?
Saat sambutan demi sambutan kami tuturkan pada mereka?
Saat puji-pujian kami lantunkan sembari mendekati mereka?
Saat kami menyapa dan mengajak mereka berkenalan?
Saat kami berusaha mencairkan suasana kala mereka sedang mengisi daftar hadir?

Tuhan, di situkah hati kami?
Saat kami bersatu dalam doa-doa kami?
Saat kami rela bangun pagi demi melayani?
Saat kami menjajakan barang danusan?
Saat kami mendengungkan ibadah melalui ajakan demi ajakan?

Allah, Kau yang paling rindu kehadiran mereka di kampus ini.
Kau yang paling rindu mereka terjangkau di kampus ini.
Kau yang paling rindu mereka lebih mengenalmu.
Sungguh, hanya Engkau, Tuhan.

Bukan lelah dan peluh yang mau kami hitung,
Bukan jumlah mahasiswa baru dan hasil danusan yang hendak kami perkarakan,
Bukan apa pun, bukan, bahkan acara penyambutan ini sekali pun.

Ya Bapa, Allah, Tuhan kami,
Tersenyumkah Engkau melihat hati kami hari ini?

——-

Acara: Penyambutan Mahasiswa Baru Persekutuan Oikumene UI 2014.
Lokasi: Balairung Universitas Indonesia.

Terima kasih untuk serta dan setia-Mu hari ini, Trinitas yang Maha Mulia.

Melakukan kebaikan adalah kebutuhan rohani. Melakukan kebaikan tidak terkait dengan apa pun kondisimu dan sekitarmu. Ia seharusnya timbul dari dalam hati nurani. Melakukan kebaikan tidak terkait dengan intelektualitas. Sebab ia tidak lahir dari logika, melainkan dari hati yang sedang dimurnikan oleh Tuhan. Berbuat baiklah senantiasa, sampai kau tak sanggup menjawab, “mengapa kau mau bersusah-payah melakukannya?” Kau tidak tahu, karena berbuat baik memang tidak membutuhkan alasan.
Bukan manusia yang akan membalasnya, jadi memang bukan untuk manusia kau melakukannya.